Langsung ke konten utama

Prediksi Ekonomi Syariah di Tahun Politik 2018.

Eko Wiratno bersama Istri, Dwi Suci, MP.



Prediksi Ekonomi Syariah di Tahun Politik 2018

Oleh :
Eko Wiratno*
(*Pengamat Ekonomi Syariah, Direktur Arwira Foundation).



Tahun 2018  adalah tahun politik yang dinamis dan penuh tantangan. Data KPU menunjukkan tahun 2018 akan diselenggarakan pilkada di 171 daerah di seluruh Indonesia.

Pergantian kepala daerah merupakan sebuah keniscayaan, dimana momentum pilkada menjadi sarana evaluasi masyarakat terhadap kepemimpinan kepala daerah yang ada, sekaligus menjadi ajang memilih kepala daerah yang dianggap dapat memenuhi aspirasi.

Pada tingkat nasional, diantara tahapan penting yang harus dilalui pada tahun 2018 ini adalah pengajuan calon anggota legislatif pada bulan Juli 2018, dan pengajuan calon presiden pada bulan Agustus 2018.

Terlepas apakah nanti ada perubahan dari sisi waktu, namun dipastikan kedua proses tersebut akan sangat menguras energi.

Tentu kita berharap bahwa semua proses politik tersebut bisa memberikan hasil yang optimal bagi bangsa.

Dari perspektif ekonomi syariah, semua proses politik, baik di daerah maupun pada level nasional, diharapkan dapat mendongkrak peran yang lebih besar kepada institusi dan instrumen ekonomi syariah.

Meski belum pernah ada survey mengenai persepsi calon kepala daerah dan bakal calon anggota dewan terhadap ekonomi syariah, namun penulis menduga bahwa tingkat literasi mereka terhadap ekonomi syariah masih rendah.

Dugaan ini tentu bukan tanpa sebab, tetapi didasarkan pada fakta yang ada.

Jika kita perhatikan, bahwa sejak tahun 2004 hingga saat ini, program-program di bidang ekonomi yang ditawarkan kepada publik oleh para caleg maupun para calon kepala daerah (cakada), masih sangat jarang yang menyentuh aspek penguatan ekonomi syariah.

Seolah-olah “jualan” ekonomi syariah masih dianggap kurang menarik.

Hanya sedikit partai, caleg dan cakada yang menaruh perhatian pada ekonomi syariah, padahal instrumen ini memiliki potensi yang sangat besar.

Untuk membuktikan hal di atas, mari kita ambil contoh di bidang perzakatan.

Hasil studi Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS tahun 2017 ini di 28 provinsi dengan menggunakan IZN (Indeks Zakat Nasional) sebagai indikator, ditemukan fakta bahwa rata-rata nilai indeks regulasi dan indeks dukungan APBD masing-masing mencapai angka 0,29 dan 0,32.

Skor tersebut jika didasarkan pada kriteria penilaian IZN (yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan tidak baik) maka berada pada kriteria “kurang baik”.

Ini menunjukkan bahwa secara umum, perhatian pemerintah daerah, dalam hal ini Pemprov dan DPRD, masih sangat lemah terhadap pengelolaan zakat di daerahnya.

Dukungan regulasi maupun dukungan APBD yang ada, masih jauh dari kata memadai.

Hal ini membuat BAZNAS di daerah banyak yang berjuang sendiri. Meski demikian, kinerja kelembagaan dan dampak pengelolaan zakat yang dilakukan BAZNAS daerah terhadap kesejahteraan mustahik, menunjukkan angka yang lebih baik dibandingkan dengan kinerja dukungan pemda dan DPRD-nya.

Hal ini dapat dibuktikan dari rata-rata nilai indeks kelembagaan dan indeks dampak zakat terhadap mustahik, yang masing-masing mencapai angka 0,50 (kategori cukup baik) dan 0,65 (kategori baik).

Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa para kepala daerah beserta para anggota DPRD masih belum menganggap zakat ini sebagai bagian penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan.

Ini adalah bukti bahwa literasi zakat pimpinan daerah, baik eksekutif maupun legislatif, masih belum berada pada level yang diharapkan.

Contoh lain adalah di bidang perbankan syariah. Secara umum, dukungan pemerintah daerah terhadap perbankan syariah juga masih belum optimal.


 Baru Pemprov Aceh yang berani mengkonversi bank daerah miliknya menjadi bank umum syariah sehingga mendongkrak posisi aset perbankan syariah nasional di kisaran 5,3 persen. Mudah-mudahan rencana Pemprov NTB melakukan hal yang sama, dapat berjalan dengan baik di tahun 2018 ini.

Selanjutnya, Pemprov Jabar juga terbukti mampu membesarkan Bank BJB Syariah sebagai bank syariah daerah yang kuat, meski masih memiliki induk yang konvensional.

Inilah potret realitas yang harus terus menerus diperbaiki. Harus diakui bahwa ada sisi ideologis dari ekonomi syariah, yang membuat sebagian pihak di negeri ini menjadi antipati dan alergi, termasuk sebagian pemimpin politik.

 Namun yang juga perlu diperhatikan adalah adanya sisi pragmatis dari ekonomi syariah, yang kalau dikelola dengan baik, akan memberikan manfaat positif bagi perekonomian bangsa dan negara. Sisi pragmatisme inilah yang membuat banyak negara bukan Islam, seperti Inggris dan Singapura, yang mencoba memanfaatkan ekonomi syariah untuk kepentingan mereka sendiri.

Inilah tantangan bagi para pegiat ekonomi syariah untuk mengkomunikasikan potensi dan peluang ekonomi syariah kepada para pemimpin politik negeri ini.

Para (bakal) caleg, cakada, bahkan capres mendatang, harus dapat diyakinkan bahwa sektor riil syariah (seperti industri makanan dan pariwisata halal), sektor keuangan syariah, dan sektor zakat dan wakaf, berpotensi untuk dijadikan sebagai instrumen yang bisa mengangkat derajat perekonomian daerah dan perekonomian nasional ke arah yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera. Wallaahu a’lam. (Di rangkum dari Berbagai Sumber).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih STIA Madani.

Solidaritas STIA Madani untuk masyarakat yang terdampak banjir di Jiwo Kulon dan Jiwo Wetan. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Madani yang beralamatkan di Pilangsari, Gondang, Kebonarum, Klaten sabtu(02/12) siang mengadakan Bhakti Sosial di dukuh Jiwo Kulon , Desa Trotok, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Penanggung jawab kegiatan Drs. H. Heru Maryanto, M.Si membenarkan adanya Bhakti sosial yang dilaksanakan Sabtu(02/11) dengan 4 titik yaitu di Dukuh Jiwo Kulon Desa Trotok, di Dukuh Tegalsari Desa Pacing, Dukuh Muker Kidul Desa Melikan serta Dukuh Melikan Desa Melikan yang keempatnya berada di Kecamatan Wedi. "Kami dari LPPM bersinergi dengan Yayasan Insan Bhakti Klaten dan segenap civitas akademika STIA Madani baik dosen, karyawan, para mahasiswa guyup ikut Bhakti sosial di wilayah yang terkena dampak banjir di kecamatan Wedi", tutur Heru. Sementara itu salah satu penerima solidaritas STIA Madani Peduli Banjir Rohdi(51) mengucapkan terimakasih kepad...

Relawan Cantik ini siaga di Jiwo Kulon.

Relawan Banjir ini Virral di Media Sosial. Banjir yang berlangsung dari hari senin(27/11) sampai rabu(29/11) dinihari yang mengguyur wilayah Kabupaten Klaten membuat hampir sebagian wilayah terdampak banjir. Seperti halnya yang terjadi di wilayah kecamatan Wedi yang mengakibatkan beberapa dukuh dibeberapa desa tergenang air. Tercatat dalam kurun waktu seperempat abad(25 tahun_red) baru tahun ini sebagian wilayah Jiwo Kulon terkena banjir akibat luapan sungai Dengkeng akibat ada tanggul yang jebol. Seiring dengan itu jalan raya Wedi - Bayat yang melintasi dukuh Jiwo Kulon dan Jiwo Wetan juga terkena imbas meluapnya sungai Dengkeng. Jl. Wedi-Bayat , Jiwo Kulon mulai tergenang air pukul 01:30 WIB tadi. Disinilah relawan dari Jiwo Kulon mulai melaksanakan aksi sosialnya. Diantara mereka ada sesosok relawan cantik yang ikut peduli disini. Usut punya usut ternyata relawan ini virral di Media Sosial. Wah ternyata relawan ini masih sebagai mahasiswa ...

BEM STIA Madani "nyawiji" di Watu Prau.

BEM STIA Madani "Nyawiji" di Watu Prau. Sabtu siang(03/03/2018) keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi(STIA)  Madani Klaten mengadakan studi wisata di Obyek Wisata Watu Prau, Gunung Gajah, Bayat, Klaten. Rombongan BEM STIA Madani diterima langsung oleh Pemerintah Desa setempat yang diwakili Wakil Ketua BPD setempat Harsana Dwi Admaja.  BEM dipimpin oleh ketuanya  H. Wahyudi di dampingi oleh para dosen antara lain Farida PH, Erry SP, Eko Wiratno. Agenda pengurus BEM di Watu Prau diantaranya adalah rapat Pleno kegiatan periode 2018-2019 dilanjutkan pembahasan proposal kegiatan mahasiswa yang di pimpin oleh para dosen yang hadir dan ditutup dengan rekreasi di Obyek Wisata Watu Prau sampai pukul 16:55 Wib sore tadi. Salah satu pengurus BEM STIA Madani Luluk(19) merasa senang masuk di pengurus BEM kali ini. "Di BEM wawasan keilmuwan kita bisa tambah," ujar mahasiswi dari Kalimantan ini. Sementara itu Pemerintah Des...