Langsung ke konten utama

Ekonomi Syariah di 2018 di prediksi Membaik.

Tahun 2018, Ekonomi Syariah berpeluang membaik

Oleh : Eko Wiratno
( Pengamat Ekonomi Syariah ).

Industri keuangan Syariah nasional memasuki babak baru atas prestasi Market Share Industri Keuangan Syariah (IKS) mencapai 8 Persen setelah beberapa tahun terakhir industri keuangan Syariah terjebak market share 5 persen seakan bagai kutukan dimana hampir 10 tahun aset keuangan Syariah terjebakan dalam angka 5 persen.


Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2017, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk Saham Syariah) mencapai Rp 1.048,8 triliun, yang terdiri aset Perbankan Syariah Rp 389,74 triliun, IKNB Syariah Rp 99,15 triliun, dan Pasar Modal Syariah Rp 559,59 triliun, dengan total industri keuangan Rp 13.092 triliun maka market share industri keuangan Syariah telah
mencapai 8.01%.


Lebih lanjut OJK melaporkan IKS saat ini terdiri atas 13 bank umum syariah, 21 bank unit syariah, dan 167 BPR syariah, memiliki total aset Rp 389,7 triliun atau 5,44 persen dari total aset perbankan nasional, sementara Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah terdiri dari 59 asuransi syariah, 38 pembiayaan syariah, 6 penjaminan syariah, 10 LKM syariah dan 10 IKNB syariah lainnya, memiliki aset Rp99,15 triliun atau 4,78 persen dari total aset IKNB nasional.


Selain itu, produk keuangan Syariah yang mengalami perkembangan adalah sukuk (obligasi Syariah) dimana hingga Agustus berdasarkan laporan OJK, jumlah outstanding Sukuk Negara mencapai 56 seri atau 33,53% dari total jumlah Surat Berharga Negara outstanding sebanyak 167. Nilai Sukuk Negara outstanding mencapai Rp524,71 triliun atau 16,99% dari total nilai surat berharga negara outstanding sebesar Rp3.087,95 triliun.



Produk keuangan Syarah lainnya yang tumbuh positif adalah reksadana Syariah, dalam laporan OJK (2017), Jumlah reksadana syariah per 31 Agustus 2017 sebanyak 160 atau meningkat sebesar 17,65 % dibandingkan akhir tahun 2016 yaitu 136. Sementara Nilai Aset Bersih (NAB) per 31 Agustus 2017 sebesar Rp 20,62  triliun atau meningkat 38,30% dibandingkan NAB akhir tahun 2016 sebesar Rp14,91 triliun.


Meskipun IKS telah keluar dari “jebakan” 5% namun demikian angka tersebut masih dinilai tidak selaras dengan jumlah penduduk muslim dimana berdasarkan data Sensus Penduduk 2010 menunjukkan 87,18% atau 207 juta jiwa dari total 238 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam, sementara World Bank (2016) mencatat jumlah penduduk Indonesia 261 juta jiwa artinya hanya sebagian kecil penduduk muslim yang menggunakan produk keuangan Syariah.



Oleh karena itu, betapa pentingnya program pengembangan dan sosialisasi keuangan Syariah yang melibatkan semua pihak terkait industri keuangan Syariah ke depan agar semakin banyak penduduk Islam yang  hijrah menggunakan produk keuangan Syariah karena berdasarkan data OJK (2016) Indeks Literasi Keuangan Syariah Nasioanal 8.11% artinya dalam setiap seratus orang hanya 8 orang yang tau tentang keuangan Syariah. Dus, tidak heran kenapa pertumbuhan keuangan Syariah belum signifikan apabila dibandingkan dengan keuangan konvesional.
Kegiatan sosialisasi dan edukasi seperti Keuangan Syariah Fair, iB Vaganza, Training of Training (TOT) Keuangan Syariah, Sosialisasi IKNB Syariah dan Pasar Modal Syariah sangat penting untuk ditingkatkan di tahun 2018 untuk meningkatkan market awarness terhadap keuangan Syariah, serta pentingnya bekerja sama dengan asosiasi, ormas Islam, mesjid-based community dan pengiat ekonomi Syariah seperti MES dan IAEI yang memiliki anggota hingga akar rumput yang tersebar di seluruh Indonesia.



Sementara itu, langkah lain untuk meningkatkan ketertarikan kepada keuangan Syariah dengan meningkatkan pengembangan dan inovasi produk keuangan Syariah, semakin banyak variasi produknya akan mendorong orang untuk menggunakan produk keuangan Syariah seperti Reksa Dana Syariah, Asuransi Syariah, Fintech Syariah, Sukuk, Penyertaan Modal Ventura Syariah dan sebagainya.
 
*Tantangan 2018*

Setelah market share 8% tercapai ke depan industri keuangan Syariah diharapkan dapat berkontribusi dalam mensejahterahkan masyarakat dan kegiatan pemerataan ekonomi terutama  dalam membantu akses masyarakat dalam mendapatkan dan menggunakan produk jasa keuangan Syariah.

 Berdasarkan data OJK, indeks inklusi keuangan Syariah tahun 2016 baru 11,06% artinya setiap 100 penduduk hanya 11 orang yang menggunakan atau mendapatkan akses jasa keuangan Syariah. Tentunya tantangan ini cukup ironi dan menyedihkan bagi negeri muslim terbesar.

Tahun 2018 perbankan Syariah harus terus didorong agar dapat memberikan akses pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang juga belum banyak tergarap. Selama ini, sektor yang menjadi garapan perbankan Syariah lebih pada sektor perdagangan, dan pengolahan, belum masuk dalam inti persoalan masyarakat yaitu kemiskinan dan pemerataan ekonomi.



Perbankan Syariah harus lebih terlibat dalam program penyalur kredit Usaha Rakyat (KUR) yang pembiayaan modal kerja kerja kepada pelaku usaha UMKM. Berdasarkan data BPS (2013), ada 57,9 juta pelaku UMKM dengan pertumbuhan sekitar 2,4% per tahun. Pelaku bisnis ini telah menyerap 114 juta orang dengan kontribusi 60,44% terhadap produk domestik bruto (PDB). Data ini menunjukkan UMKM telah menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.



Saat ini masyarakat miskin sangat susah mendapatkan modal usaha dari perbankan padahal mereka juga memiliki kemauan dan spirit untuk berusaha (bekerja). Kondisi tersebut juga merupakan sebuah peluang bagi perbankan Syariah dan lembaga keuangan non bank Syariah untuk masuk sebagai bagian dari solusi pembiayaan bagi UMKM sehingga dapat mendorong pertumbuhan perbankan Syariah dengan menggarap potensi UMKM.



Apabila perbankan Syariah dapat masuk dalam pengentasan kemiskinan dan pemerataan ekonomi maka perbankan Syariah telah mendorong tercapainya tujuan Syariah atau maqasid syariah, sehingga tercipta proses integrasi yang tumbuh secara bersama anatar sektor riil, jasa keuangan Syariah dan religius/sosial.



Dalam hal ini perbankan Syariah dapat bersinergi dengan Financial Technology (fintech) dalam membantu akses keuangan kepada masyarakat bawah. Salah satunya dengan model Peer to Peer (P2P) Lending sementara P2P juga merupakan salah satu produk  Financial Technology (Fintech).



Sinergi dengan fintech misalnya dengan menggunakan jasa bank untuk melakukan transaksi dengan nasabah P2P Lending hal ini juga sesuai dengan prinsip syariah yang mendorong prinsip kerjasama dan gotong royong kelompok yang membutuhkan bantuan (dana) modelnya bias dengan melakukan pola channeling dimana pembiayaan mikro bank dilakukan oleh P2P Lending sehingga kewajiban perbankan syariah melakukan pembiayaan mikro juga tercapai.



Dengan demikian keuangan Syariah tidak sekadar alternatif tetapi perlahan namun pasti menjelma menjadi pilihan untuk solusi perekonomian dan   memberikan kemaslahatan bagi kehidupan berbangsa kita. Wallahu ‘alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terimakasih STIA Madani.

Solidaritas STIA Madani untuk masyarakat yang terdampak banjir di Jiwo Kulon dan Jiwo Wetan. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Madani yang beralamatkan di Pilangsari, Gondang, Kebonarum, Klaten sabtu(02/12) siang mengadakan Bhakti Sosial di dukuh Jiwo Kulon , Desa Trotok, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Penanggung jawab kegiatan Drs. H. Heru Maryanto, M.Si membenarkan adanya Bhakti sosial yang dilaksanakan Sabtu(02/11) dengan 4 titik yaitu di Dukuh Jiwo Kulon Desa Trotok, di Dukuh Tegalsari Desa Pacing, Dukuh Muker Kidul Desa Melikan serta Dukuh Melikan Desa Melikan yang keempatnya berada di Kecamatan Wedi. "Kami dari LPPM bersinergi dengan Yayasan Insan Bhakti Klaten dan segenap civitas akademika STIA Madani baik dosen, karyawan, para mahasiswa guyup ikut Bhakti sosial di wilayah yang terkena dampak banjir di kecamatan Wedi", tutur Heru. Sementara itu salah satu penerima solidaritas STIA Madani Peduli Banjir Rohdi(51) mengucapkan terimakasih kepad...

Relawan Cantik ini siaga di Jiwo Kulon.

Relawan Banjir ini Virral di Media Sosial. Banjir yang berlangsung dari hari senin(27/11) sampai rabu(29/11) dinihari yang mengguyur wilayah Kabupaten Klaten membuat hampir sebagian wilayah terdampak banjir. Seperti halnya yang terjadi di wilayah kecamatan Wedi yang mengakibatkan beberapa dukuh dibeberapa desa tergenang air. Tercatat dalam kurun waktu seperempat abad(25 tahun_red) baru tahun ini sebagian wilayah Jiwo Kulon terkena banjir akibat luapan sungai Dengkeng akibat ada tanggul yang jebol. Seiring dengan itu jalan raya Wedi - Bayat yang melintasi dukuh Jiwo Kulon dan Jiwo Wetan juga terkena imbas meluapnya sungai Dengkeng. Jl. Wedi-Bayat , Jiwo Kulon mulai tergenang air pukul 01:30 WIB tadi. Disinilah relawan dari Jiwo Kulon mulai melaksanakan aksi sosialnya. Diantara mereka ada sesosok relawan cantik yang ikut peduli disini. Usut punya usut ternyata relawan ini virral di Media Sosial. Wah ternyata relawan ini masih sebagai mahasiswa ...

BEM STIA Madani "nyawiji" di Watu Prau.

BEM STIA Madani "Nyawiji" di Watu Prau. Sabtu siang(03/03/2018) keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi(STIA)  Madani Klaten mengadakan studi wisata di Obyek Wisata Watu Prau, Gunung Gajah, Bayat, Klaten. Rombongan BEM STIA Madani diterima langsung oleh Pemerintah Desa setempat yang diwakili Wakil Ketua BPD setempat Harsana Dwi Admaja.  BEM dipimpin oleh ketuanya  H. Wahyudi di dampingi oleh para dosen antara lain Farida PH, Erry SP, Eko Wiratno. Agenda pengurus BEM di Watu Prau diantaranya adalah rapat Pleno kegiatan periode 2018-2019 dilanjutkan pembahasan proposal kegiatan mahasiswa yang di pimpin oleh para dosen yang hadir dan ditutup dengan rekreasi di Obyek Wisata Watu Prau sampai pukul 16:55 Wib sore tadi. Salah satu pengurus BEM STIA Madani Luluk(19) merasa senang masuk di pengurus BEM kali ini. "Di BEM wawasan keilmuwan kita bisa tambah," ujar mahasiswi dari Kalimantan ini. Sementara itu Pemerintah Des...